All cast milik Masashi, saya cuma numpang beken.
Perhatian : ketidakjelasan ada dimana-dimana, silakan klik tombol 'back' jika kurang berkenan.
flame are welcomed. don't worry ^^
Sakura kembali menguap malas, entah sudah keberapa. Tiga buku tebal
dan dua jurnal berbahasa asing terbuka di depannya, sementara kertas-kertas
lain berserakan tak karuan. Sesekali ia meneguk air mineral yang sengaja
disiapkannya dalam teko besar. Ia tak mau mati dehidrasi, tentu saja. Konoha
akhir-akhir ini sedikit menggila. Efek global warming, begitu ucap Ino
tempo hari saat keduanya nyaris pingsan selepas mengikuti penutupan advance training. Ia sempat
bertanya-tanya, darimana sahabat pirangnya itu mendapatkan informasi.
Setahunya, selama ini Ino hanya tertarik pada dirinya sendiri. Rasanya nyaris
mustahil mendapatinya jadi pecinta lingkungan hidup. Oh ayolah, mereka berteman
sejak masih ingusan, dan dia tahu ada yang salah dengan Ino-nya.
Ngomong-ngomong, membahas global warming entah kenapa membuat
alisnya berkedut. Huh, tugas pokok mata kuliah saja sudah hampir membuatnya
mengibarkan bendera putih. Bagaimana ia bisa peduli pada isu-isu itu? Jangan
mengejek, ia tahu banyak orang yang mengaku peduli tapi tetap saja membuang
sampah seenaknya, malas mematikan alat elektronik, dan yang lebih parah, tetap
senang memakai jeans. Proses pembuatan jeans merusak lingkungan, ia pernah
menontonnya secara tak sengaja saat memencet-mencet channel secara acak.
Sepertinya ia perlu mengingatkan Ino tentang ini, bocah itu memiliki koleksi
jeans nyaris lima lusin. Padahal, siapa yang peduli kau mengganti jeansmu?
Tidak akan ada yang memperhatikannya apalagi kalau kau memiliki bokong tepos
dan-- ah sudahlah, pembahasan itu membuatnya sakit hati.
Meaow... Meaow...
Ponselnya mencicit lucu, sebelah alisnya terangkat melihat nomor yang
berkedip di layarnya.
"Hoi Forehead, kau pasti sedang memikirkanku kan? Iya kan?
Hahaha."
Sakura menjauhkan ponsel dari telinganya sambil tersungut kesal. Sial.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Ino dengan tawa cemprengnya lebih dulu membuat
kupingnya berdengung.
"Kau mau membuatku tuli ya? Brengsek."
"Hah? Apa," suara Ino terdengar pura-pura kaget, "Tidak
sayang, aku tidak berniat seperti itu. Sakura yang sempurna saja masih jomblo
tulen, apalagi kalau sampai tuli. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Kikikan menyebalkan Ino kembali mengisi ruang dengarnya. Membuatnya
melotot keki. Yang benar saja, Ino itu sahabatnya bukan sih?
"Sakura, kau masih di sana?"
"Hm...."
"Ayo temani aku, Sakura. Aku mau bertemu seseorang."
"Apa? Ino, kita sudah sepakat tentang…."
"Aku tau darling, tenang saja. Ini orang yang kita kenal kok. Aku
juga tidak berani bertemu dengan orang asing."
"Lalu? Kenapa mengajakku?"
"Um..., kurasa agar kami tidak terlalu kaku?" Ino terdengar
bingung dengan ucapannya sendiri, "Maksudku…."
"Lupakan," sahut Sakura cepat sambil meneguk air di
sebelahnya, "Aku tahu kau tidak membutuhkanku…," --dan aku juga malas keluar rumah di cuaca
gila ini. "Lagipula, kau lebih hebat dalam menghidupkan suasan. Iya
kan?"
"Oh ayolah Sakura, sekali ini saja."
"Ino, minggu depan kita ujian, kalau kau lupa. Kita--."
"Huh. Kutubuku brengsek!"
Klik. Sambungan terputus. Sial. Ganti Sakura yang mengumpat sambil
membanting ponselnya di kasur. Dasar Ino sialan, bukannya berterimakasih sudah
diingatkan malah mengatainya. Tunggu, Ino bilang akan bertemu seseorang? Ini
aneh. Seingatnya, tidak ada pemuda tinggi-tampan-rupawan di sekitar mereka
akhir-akhir ini. Ia tahu Ino memiliki banyak penggemar, tapi dia tidak pernah
menganggap mereka lebih dari itu.
Meaow... Meaow...
"Apa lagi? Kalau hanya mau mengomel berhenti menelfonku
pig."
"Hn."
"Eh?" Sakura terkesiap, cepat dijauhkannya ponsel dari
telinganya. Matanya melebar melihat layar ponsel. Astaga, nomor baru.
"Aa..., M-maaf."
"Hn."
"Hn?"
Tunggu, sepertinya dia familiar dengan dua kata itu. Di mana dia
pernah mendengarnya?
"Haruno Sakura?"
Suara di seberang kembali terdengar. Berat dan datar, tapi menggoda
disaat yang bersamaan.
"Ii-iya?"
"Boleh minta nomor ponsel ayahmu?"
Gubrakk. Sakura nyaris terjengkang saking kagetnya. Yang benar saja,
suara berat, datar nan seksi itu tenyata lebih tertarik pada ayahnya daripada
dia yang jelas-jelas lebih menggoda.
"Ada urusan apa dengan ayahku, err--."
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Lagi-lagi Sakura nyaris terjengkang. Tidak, kali ini kursi yang di
dudukinya yang terjengkang karena dia berdiri dengan tiba-tiba. Untung bunyi
gedebum saat kursi mencium lantai tidak terdengar. Terimakasih Ino karena
menghadiahinya karpet norak berbulu yang nyaris dilemparnya keluar jendela
bulan lalu. Siapa sangka, karpet itu ternyata ada manfaatnya.
"Sakura?"
"I-iya," Sakura berdiri dengan gugup. Ia menyelipkan helaian
rambutnya ke belakang telinga. Sedetik kemudian ia merasa konyol, ini kan di
kamarnya, kenapa ia harus bertingkah seerti ababil kasmaran?
"A-apa ini Sasuke-senpai? Ketua dewan mahasiswa yang…."
"Hn."
Oh astaga, astaga, astaga. Apa yang harus dilakukannya? Apakah itu
benar Sasuke? Jangan-jangan ia sedang dikerjai. Tidak. Suara itu memang milik
Sasuke. Sakura tak mungkin salah mengenali.
Sakura jejingkrakan tanpa sadar. Tawa lebar tiga jari menghiasi
wajahnya. Ino pasti pingsan kalau tahu siapa yang menelfonnya sekarang. Yah,
diam-diam mereka memang penggemar Sasuke. Si muka tembok yang meski jutek minta
ampun tapi kecenya selangit. Sebenarnya bukan hanya mereka sih, mungkin semua
perempuan di kampus mereka menyukainya.
"Jadi Sakura," Suara datar Sasuke menariknya kembali ke
dunia nyata. Ia berhenti melompat tak jelas dan memilih memegang dadanya yang
bergemuruh tak karuan, "Bisakah kau mengirimkan nomor ayahmu?"
Sakura tersenyum lebar, rona merah tercetak jelas di kedua pipinya. Ia
pernah mendengar, kalau seorang pria meminta nomor ayahmu berarti dia menawarkan
hubungan yang serius. Apa Sasuke-senpai benar-benar menyukainya? tapi sejak
kapan? Selama ini interaksi mereka hanya sebatas senior-junior selama masa
penerimaan mahasiswa baru. Itupun sudah berlalu hampir setahun lalu. Sasuke
terkenal jutek dan bengis terhadap junior, jadi tak banyak yang berani
mendekatinya.
"Sakura."
Suara bariton Sasuke kembali terdengar. Menyadarkan Sakura dari
imajinasi liarnya tentang si pangeran kampus.
"Ano, Senpai, kalau boleh tahu, kenapa kau meminta nomor ayahku
ya?"
Sakura mengigit bibir dalamnya menahan senyum. Ia sudah bisa
menyimpulkan Sasuke naksir padanya, tapi dia butuh pernyataan langsung. Ia
memejamkan mata demi menajamkan pendengaran. Ini peristiwa langka abad ini, ia
tak boleh melewatkannya barang sedetikpun.
"Hn. Kudengar ayahmu seorang wedding
planner, aku ingin menyewa jasanya."
"Aa-apa?" Sakura tertegun, imajinasi yang masih berterbangan
retak seketika. Tubuhnya terduduk lesu di tepi ranjang, "Ma-maksud
Senpai?"
"Bukankah ayahmu seorang wedding
planner?"
Kali ini suara Sasuke yang terdengar bingung.
"Be-benar," gumaman Sakura membuat Sasuke yang semula
menahan nafas menghembuskannya perlahan. "Tapi, untuk apa senpai
menanyakannya?"
"Membicarakan rencana pernikahan, tentu saja."
Sakura melorot dengan tidak elitnya ke lantai. Kakinya sempat terantuk
kursi yang tadi terjengkang karena ulahnya. Ia ingin mengumpat, tapi Sasuke
masih ada di seberang sana. Ia tidak boleh terlihat barbar di depan orang yang
disukainya.
"Um... baik Senpai, nanti ku kirimkan."
Akhirnya kalimat itu bisa ia ucapkan. Bersamaan dengan bunyi klik
tanda terputusnya telfon. Ia memutus telfon dari seorang Uchiha Sasuke. Huh,
dia pasti sudah gila. Kelebatan kenangan terputar di kepalanya. Ia ingat,
Sasuke pernah menolongnya membawa setumpuk diktat ke ruang Tsunade sama. Sasuke
juga pernah memberinya tumpangan saat ia terlambat mengikuti orientasi. Bahkan
karena Sasuke, ia lolos dari hukuman Karin-senpai yang bengis. Ah, Karin, apa
Sasuke menikah dengannya ya? selama ini satu-satunya perempuan yang bisa
berdiri di samping Sasuke hanya Karin. Dengar-dengar mereka dekat karena
keluarga mereka bersahabat. Jadi wajar kalau akhirnya mereka menikah.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, ia bahkan memukulnya karena
merasa tolol.
"Apa sih yang kupikirkan." gumamnya prihatin, "Dia yang
menikah kenapa aku yang pusing?"
Dia mengangguk, meyakinkan diri sendiri. Tapi saat dia akan bangkit
dari duduknya, sebulir airmata lolos dari pertahanannya. Ia kembali bersimpuh,
kali ini sambil tersedu kecil. Separuh untuk hatinya yang patah, separuhnya
lagi untuk ketololannya menangisi sesuatmu yang bahkan tak pernah ia miliki.
***
"Errr... Sakura, kau yakin tidak papa?" suara Ino kembali
menyapa ruang dengarnya. Ia mendongak sesaat untuk melihat Ino yang tengah
menatapnya cemas. Membuatnya sedikit merasa bersalah. Ini pasti gara-gara
kantung mata sialan yang tak mau minggat meski telah dikompresnya selama hampir
dua jam.
"Aku baik, Ino," ucapnya sambil mencoba tersenyum --meski
berakhir aneh, "Jangan khawatir."
"Huh. Harusnya kau melihat wajahmu saat mengatakan kalimat
itu." gerutunya sambil kembali membenahi poni sampingnya. Sakura hanya
tertawa masam. Ia patah hati. konyolnya, untuk sesuatu yang bahkan mungkin
tidak tahu ia ada. Menyedihkan sekali. dan ini sudah terjadi dua hari sejak
Sasuke menelfonnya. Sial.
"Kau harus menceritakannya kalau sudah siap, nee." suara Ino
kembali terdengar. Memaksanya tersenyum hanya untuk membuat sahabatnya itu
berhenti khawatir. Gadis merah muda itu hanya mengangguk kecil sambil kembali menekuni
novel spionase favoritnya.
Sakura baru akan beranjak dari duduknya saat di ujung sana bayangan
Sasuke menguncinya. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang mengapit
lengannya sambil mengatakan sesuatu pada Sasuke. Sasuke terlihat mengangguk kecil
lalu tersenyum sambil mengangkat sebelah jempolnya. Pemandangan langka yang
menyakitkan. Itu adalah perempuan kedua setelah Karin yang bisa menempel pada
Sasuke.
"Sakura, ada apa?" suara cemas Ino membuatnya kembali
terjaga. Lupakan Sasuke, dia bukan siapa-siapa. Lupakan Sasuke dia bukan
siapa-siapa. Mantra itu terus diputarnya. Ia tak boleh kalah oleh romantisme
menyedihkan seperti ini. Ini samasekali bukan dirinya.
"Sakura," Panggil Ino disertai guncangan lembut dibahunya.
"Kau kenapa?"
Ino sangat mencemaskannya. Ia bisa merasakan itu.
"Aku pulang dulu ya, Ino," ucapnya sambil beranjak dari
duduk, "Kurasa aku perlu sedikit istirahat."
***
Sakura masih asik dengan ipodnya. Udara luar yang masih menggila
membuatnya betah berlama-lama di kamar. Terimakasih pada Sasori-nii yang telah
menghadiahinya pendingin ruangan canggih saat ulang tahunnya bulan lalu. Ah,
Sasori-nii, sedang apa ya dia sekarang? Kalau di Konoha saja sepanas ini,
bagaimana dengan di Suna? Nii-sannya bilang, Suna adalah daerah padang pasir,
bisa dibayangkan bagaimana panasnya. Ia hanya berharap semoga Nii-san yang
bekerja sebagai kepala mekanik industri penerbangan Suna itu tetap baik-baik
saja.
"Sakura,"
panggilan sang ibu menginterupsi lamunannya tentang sang kakak. Sakura
segera menurunkan kakinya yang tadi terulur ke dinding. Beruntung ia hanya
mendengar lagu-lagu ballad, jadi pendengarannya tidak sepenuhnya terblokir dari
dunia luar.
"Sa-ku-ra."
"Ibu," Sakura tersungut saat mendekati ibunya di dapur.
"Tidak teriak-teriak bisa kan? aku belum tuli tau."
"Maaf sayang," ucap Mebuki sambil tersenyum, "Ini,
tolong bawa ke depan ya. Ayahmu ada tamu. Ibu mau ke toilet, kebelat."
Sakura mendelik melihat ekspresi ibunya, yang benar saja, memangnya
kalau kebelet harus secentil itu? Huh, sakura tahu ibunya terkena syndrom
pinokio, tapi wajah itu-- err, Sakura bergidik membayangkannya.
"Akhir-akhir ini memang banyak pasangan yang memilih menikah
muda."
Suara khas ayahnya terdengar saat Sakura memasuki ruang tengah. Di
tangannya setoples Nastar buatan sendiri dan dua cangkir ocha mengepul hangat.
Ia tidak tahu siapa tamu sang ayah, tapi ia sedikit heran. Tidak biasanya sang
ayah menerima klien di rumah.
"Kurasa itu benar,"
Sakura terhenti sejenak, suara itu? sepertinya ia tidak asing dengan
tone dan keseksiannya.
"Menikah muda, bukankah itu terdengar menyenangkan, paman?"
Sakura kembali membeku, dia tidak mungkin salah mengenali. Suara itu--
"Itu benar, Sasuke," suara kekehan ayahnya terdengar
antusias, "Aku juga dulu menikah muda, tak heran meski anak pertamaku
sudah cukup dewasa aku tetap terlihat masih muda."
Ayahnya kembali tertawa, kali ini bahkan beberapa kali terbatuk.
Sedangkan suara Sasuke tidak terdengar di telinganya. Ia menarik nafas panjang
sebelum kembali meneruskan langkah. Jadi Sasuke benar-benar akan menyewa wedding organizer ayahnya? Menyedihkan
sekali nasibmu Sakura, rutuknya dalam hati.
"Jadi, kau ingin konsep pernikahan seperti apa?"
Deg. Jantung Sakura rasanya seperti dihantam palu. Nyeri dan nyinyir
mengalir bersamaan. Tiba-tiba saja ia merasa buruk. Kalau bisa, ia ingin
berlari masuk dan mengurung diri di kamar daripada mendengar Sasuke menjelaskan
detail pernikahannya. Tapi ia tidak bisa, karena--
"Oh, Sakura-chan, kau ada di sini,"
Ayahnya lebih dulu memergokinya tengah terpaku di dinding pembatas
ruang tamu dan ruang keluarga kediaman mereka, "Kemarilah. Kurasa Sasuke
juga sudah haus."
Sakura melangkah kikkuk mendekati mereka. Ia bisa merasakan tatapan
tajam Sasuke dari sudut matanya.
"Sebenarnya akan lebih baik kalau kalian datang berdua. Selera
kalian bisa saja berbeda."
Dada Sakura kembali nyeri mendengar ucapan ayahnya.
"Hn, kami sudah pasti satu suara paman, jangan khawatir. Jadi,
berapa biaya untuk satu paketnya?"
"Umm... itu tergantung, Sasuke," gumam Kizashi, "Oh,
terimakasih sayang." ucapnya saat Sakura menaruh Ocha di hadapannya.
"Antara lima ratus ribu hingga sepuluh juta yen. Kami professional, wajar
kalau sedikit mahal."
"Hn. Tidak masalah."
Sakura sudah selesai menaruh toples nastarnya. Ia ingin segera
menghilang dari hadapan Sasuke. Ia yakin sekali, sejak tadi, tanpa sungkan
Sasuke terus memelototinya di balik wajah tembok itu.
"Sakura-chan mau kemana?" suara sang ayah terdengar saat ia
akan berbalik. Ia menatap sang ayah tak mengerti. Bukankah tidak sopan jika ia
ikut nimbrung bersama tamu ayahnya? "Ayah dengar kalian satu kampus,
mungkin kau bisa membantu. Ayah ingin tahu selera gadis muda. Tidak apa kan,
Sasuke."
Sakura mendelik mendengar perkataan Ayahnya. Apa-apaan ini? Mendengar
Sasuke akan menikah saja sudah membuatnya sesak nafas, bagaimana mungkin dia
dilibatkan di dalamnya? Ini konyol.
"Hn. Tidak masalah, paman."
Leher Sakura berputar refleks ke arah Sasuke. Sial, kenapa pula senior
juteknya itu harus mengiyakan.
"Umm.. Ano, ayah, kurasa aku--"
"Ngomong-ngomong, paman," Sasuke memotong kalimat Sakura
cepat. Memaksa gadis merah muda itu memicing tak suka. Keluarganya sangat
menjunjung tinggi adat kesopanan, dan memotong pembicaraan orang lain sama
sekali tidak masuk dalam hitungan.
"Kalau aku menikahi Sakura, apa kau akan mengratiskan biaya
WOnya?"
Sakura shock, nampan yang dipegangnya bahkan nyaris jatuh mencium
lantai. Astaga! Demi wajah tampan Son Dongwoon yang tergantung di dinding
kamarnya, apa dia tadi mendengar tentang pernikahan? Pernikahannya??
Kizashi tampak sama terkejutnya dengan sang puteri. Tapi dia lebih
cepat menguasai diri. Ia berdehem sekali lalu menganggukan kepalanya pelan.
"Akan kupikirkan," ucap Kizashi santai, "Kurasa kau
hanya perlu membayar setangahnya, bagaimana?"
Meski ada nada bercanda di kalimat sang ayah, Sakura tetap melotot
mendengarnya. Apa ayahnya sudah gila? Atau dia yang gila karena mungkin kini
tengah berhalusinasi.
"Hn. Berapapun tidak masalah sebenarnya," Sasuke melirik
Sakura sekilas. Juniornya itu masih tampak lucu dengan raut campur aduk antara
bingung, kesal, marah dan merasa bodoh.
"Kedengarannya bagus," suara Kizashi kembali terdengar
disela kekehan jahil, "Tapi sebaiknya kita selesaikan dulu ma--."
"Tunggu dulu ayah," potong Sakura cepat, persetan dengan
kesopanan. Ia sudah tidak peduli. "Apa yang kalian bicarakan
barusan?"
Sakura duduk di kursi lain masih dengan tatapan menuntut.
"Yang mana Sakura-chan?"
Sakura nyaris mendecih kalau tak ingat nasehat ibunya. Astaga, rasanya
ia sudah hampir meledak.
"Ayah, aku tidak mau menikah dengan orang yang bahkan sudah
merencanakan pernikahannya dengan orang lain. Aku tidak mau jadi yang kedua dan
yang lebih penting aku tidak ingin menyakiti calon istri Sasuke-senpai,
siapapun dia,"
Sedetik. Dua detik. Ruang tiba-tiba lengang. Kizashi tampak melongo
sempurna dengan cangkir menggantung di udara, sedangkan Sasuke tampak
mengerutkan alis tak mengerti.
"Kenapa? Kenapa kalian diam?"
Dua orang di depannya masih pada posisi yang sama. Deheman sang ayah
menjadi pembuka keheningan mereka. Sasuke tampak mengulum senyum geli di balik
wajah stoicnya. Sakura mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan apa yang
terjadi.
"Ada apa?" tanya Sakura curiga, "Apa aku melewatkan
sesuatu?"
"Err... Sayang, kau tidak berpikir kalau Sasuke yang akan menikah
kan?" ucap Kizashi sambil menahan tawa. Bahunya bahkan bergerak naik
turun, membuat Sakura semakin bingung. "Ini untuk Itachi, bukan
Sasuke."
"I-itachi?" Sakura melongo, siapa pula itu. Apa itu nama
calon Sasuke? tidak, tidak. Itu terdengar seperti nama laki-laki.
"Dia kakakku, Sakura." dengus Sasuke gemas, "Sepertinya
kau terlalu banyak berimajinasi."
Aa-apa? kakak? Dia tidak pernah tahu Sasuke punya kakak. Jadi Sasuke
mencarikan Wedding organizer untuk pernikahan kakaknya? Itu berarti Sasuke
masih bebas? Bebas dimiliki oleh siapapun termasuk dirinya. Tunggu dulu, lalu
perempuan yang mengapitnya kemarin, siapa?
"Sakura,"
Jelas-jelas mereka terlihat akrab dan mesra.
"Sakura-chan, hoi, kau baik-baik saja?"
Suara sang ayah membuyarkan deretan pertanyaan dikepalanya.
"Sakura."
Sakura bangkit dari duduk, bingung dengan gesturenya sendiri.
"Ku-kurasa, aku harus
pergi." ucapnya gugup. Astaga, memalukan sekali. Ia benar-benar menyesal
sudah bersedia menyuguhkan Ocha untuk tamu sang ayah yang ternyata senior
tampan pujaannya. Ia berjalan tergesa menuju ruang tengah. Berharap kejadian
berusan tak pernah ada.
"Dia masih aneh seperti dulu."
"Itu karena kau datang tiba-tiba, Sasuke," suara percakapan
keduanya masih ia dengar dari balik dinding. "Kukira kalian sudah akrab di
kampus. Dia banyak membahasmu saat baru masuk."
Sasuke mendengus. "Dia bahkan lupa padaku."
Kizashi kembali terkekeh, perlahan diseruputnya ocha hangat di
tangannya. "Sepertinya kita perlu mengadakan pertemuan keluarga. Lagipula
sudah lama aku tidak bertemu Fugaku. Sudah setua apa ya dia sekarang?"
Sakura semakin tak mengerti. Kalimat terakhir pembicaraan mereka yang
berhasil di dengarnya membuat seolah keluarganya dengan keluarga Sasuke sudah
saling mengenal. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Hallo sayang," suara ibunya centil menyapa pendengaran,
"Bagaimana tamu ayahmu, tampan kan?"
Sakura mendelik demi melihat senyum ibunya. Ia cepat-cepat menaruh
nampan di meja makan lalu berlari menuju tangga.
"Jangan lupa bercermin sayang, kau harus lihat wajahmu sekarang."
kikikan ibunya masih terdengar bahkan meski ia sudah menutup pintu kamarnya.
Arrrgghhh. Siall!!
"Pig, ayo kita bertemu. Aku harus--"
"Aku tau Sakura. Sasuke-senpai melamarmu kan? Hahaha."
Sakura memicing tak suka, "Darimana kau tahu?"
"Aku punya informan Darling."
"Ino." Desisnya jengkel. Ia benar-benar tak mengerti, kenapa
ia menjadi satu-satunya orang yang tak tahu tentang ini.
"Sai-kun memberitahuku," Ucap Ino santai, terdengar bocah
pirang itu bersiul pelan. Sai adalah sahabat Sasuke, mereka cukup sering
terlihat bersama. "Aku baru tahu kau dan Sasuke-senpai dulu berteman. Kau
tidak pernah bilang sih. Coba aku tahu, kita tak perlu mengendap-endap hanya
untuk membuntutinya kan. Huu...."
"Aku tidak pernah--, tunggu kau bilang apa tadi? Sai-kun? Sai
yang itu? Si seniman ramah lingkungan? Kenapa aku tidak tahu kau dekat
dengannya?"
Terdengar Ino mendecih pelan, "Kau saja yang terlalu larut dalam
duniamu Forehead. Aku sudah pernah berniat mengenalkannya padamu. Tapi kau
menolak, ingat kan?"
Astaga. Sakura memukul jidat lebarnya pelan. Ia jadi merasa bersalah,
akhir-akhir ini ia memang lebih senang mengurung diri. Dan... ya, tiba-tiba
saja kepedulian Ino pada lingkungan jadi beralasan. Senior murah senyum itu
sudah menularinya.
"Sakura? Kau baik-baik saja?"
terdengar suara Ino dari seberang. Ia jadi merasa dejavu mendengar Ino
menanyakan keadaanya.
"Umm.... yeah, kurasa. Mungkin, aku hanya butuh sedikit
istirahat." gumamnya lalu memutus telfon. Ia berbaring telentang di kasur
empuk kesayangannya. Matanya terpejam, mencari benang merah dari apa yang
dialaminya hari ini.
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, cepat ia bangkit dari tidur lalu
berjalan menuju lemari pakaiannya. Sebuah kotak besar dikeluarkannya dengan
susah payah. Ia membongkar semua isinya. Itu adalah kotak tempat ia menyimpan
barang-barang kenangannya sewaktu kecil. Sebenarnya, ibunya yang melakukan
untuknya. Sakura tak begitu peduli dengan benda-benda usang yang ia bahkan tak
ingat pernah memilikinya.
Sebuah lipatan kertas terjatuh saat ia mengangkat replika jeep
bermotif loreng. Ia segera mengambilnya. Ia membukanya dengan tak sabar, dan di
sanalah matanya terpaku. Pada tulisan tangan yang ia yakini adalah miliknya.
'Sakura & Sasuke-kun'
Tulisan itu tercetak jelas dengan spidol warna merah. Sebuah gambar
aneh berbentuk dua orang saling berpegangan menghiasi sebagian besar kertasnya.
Dada Sakura bergetar melihat itu. Tiba-tiba saja kenangan-kenangan asing
menyeruak dalam ingatannya. Seorang gadis kecil dengan jidat lebar, anak
laki-laki dengan senyum tampannya, mainan yang berserakan, mobil pengangkut
barang, boneka Bear yang terlepas lengannya, airmata, hujan. Ah, ia ingat, hari
itu hujan saat tetangga baiknya pindah entah kemana. Sakura masih terlalu kecil
untuk bertanya atau memahaminya. Ia hanya menangis karena tidak ada lagi orang
yang akan menemaninya bermain.
Sakura memukul kepalanya pelan, merasa konyol dengan dirinya sendiri.
Jadi dia sudah mengejar-ngejar Sasuke sejak tiga belas tahun lalu? sungguh
memalukan.
"Bodoh, bodoh, bodoh." umpatnya kesal, pantas saja Sasuke
selalu menatapnya horror. Ia pikir itu hanya cara Sasuke menakutinya sebagai
junior. ternyata pria itu punya maksud lain.
"Harusnya kau sadar sejak aku meminta nomor ponsel ayahmu. Dasar
pinky lemot."
"Eh?"
***
FIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar