Sabtu, 27 Agustus 2016

EXO Lotto MV Review : Duit, ayam, dan seksi dance

Sebelumnya saya harus meminta maaf kepada siapa saja yang terjerumus ke dalam tulisan ini. klik tombol back atau kalau perlu segera close tab kalian sebelum menyesalinya. Bukan mengancam loh ya, hanya saja, review ini dibuat oleh orang yang bukan berlabel Exo-L. Jadi akan banyak hal yang mungkin tidak sesuai, atau bahkan salah sebut dan salah nama. Saya cukup sibuk untuk melakukan stalking tentang mereka. Sebenarnya bukan sibuk sih, hanya malas saja. hehe.. dan, yass...!! saya bukan bagian dari kalian gaes, tapi saya adalah penikmat musik -- dan pecinta Sehun, eh?

Lotto dibuka dengan adegan perempuan yang berlari dengan efek dramatis, kurang lebih selama dua detik. Sejujurnya, saya tidak begitu mengerti apa fungsi perempuan itu dalam mendukung keseluruhan cerita dalam MV. Tapi yasudahlah ya, toh dia cantik, dan memberikan kebahagiaan untuk Chanyeol --yang mana sangat Handsome di comeback kali ini. Imo ini dibuktikan dengan kesediaan Chanyeol menyelamatkannya dari sarang penyamun yang menyanderanya.

ini siapa sih? Mirip Kris dari arah sini

Member pertama yang muncul adalah Suho dengan wajah songong dan kepala miringnya. Jujur pas pertama lihat saya pikir itu Chanyeol, atau jangan-jangan itu memang Ch? >,< detik berikutnya memperlihatkan member di ruang minim cahaya. Sempat kaget pas di shoot semua, sampai musti di pause segala. Itung dulu, satu, dua, tiga. Gosh, cuma delapan. Dimana bebeb Kai dengan tampang sengaknya? Oh, baiklah, ternyata dia masih cidera. Alhamdulillah, padahal sudah kepikiran yang, uhm,,, seperti itulah.

Gambling pertama yang muncul adalah binaan D.o yang sempat menuai kontroversi karena dianggap mendzolimi kaum perhewanan. Belum lagi ekspresi D.o udah kayak mucikari nakut-nakuti anak perawan yang nekat kabur. plis deh, kambek ini D.o gak banget, rambutnya juga bikin down. Baekhyun sempet muncul seiprit yang mana langsung membuat saya meringis. Kamu kenapa kurus banget sih nak, sini sini tante suapin temulawak biar doyan makan. :(

mau lari kemane lu tong...??
Meski gak kebagian nge-Dance, untungnya part Nyanyi di buka Kai yang lagi pamer duit ke rekan-rekan bertopengnya. cukuplah ya, meski sempet gak suka sama autotone yang sedikit mengganggu pendengaran. Setelah itu di sambung oleh Chen yang berdasarkan pantauan saya adalah penyelamat kekurangan suara rekan-rekannya. suka banget sama part-partnya dia.

And here we go, the most fenomenal part in Lotto "lipstick Chateou wainbit keolleo" (La la la la). Siapapun yang dengar kalimat itu pasti langsung stuck di kepala. Adakah diantara kalian yang langsung search guys? tu lipstick beneran ada apa enggak? dan ternyata emang ada. Hehe,  entah terkait unsur promosi atau tidak, yang jelas Chateou kebanjiran order setelah Lotto rilis. Tahu dong ya kemampuan Exo-L dalam hal membuat server down. They're the best. Ini pujian ya, bukan sindiran, plis jangan salah paham.

Begitu banyak kejutan setelah saya vakum mengikuti mereka sejak XoXo era. Salah satunya, kenapa Xiumin jadi semakin mirip Gd? Sempat muncul sekilas selama satu detik di menit ke 00:01:02 dan itu membuat saya semakin tidak mengerti dengan kesalahan penglihatan yang saya alami. Mereka terlihat seperti saudara. Apapun, saya suka dia sih. *ketjhup

Xiumin yg makin mirip Gd
Tarik nafas dulu, siapkan iman dan takwa kepada Tuhan yang maha esa karena menit berikutnya adalah cobaan terberat di seluruh dunia. SEHUN SOLO DANCE!!. sial. Sialan kamu SM, kenapa harus ada part itu, huuu.... Saya sampai harus menahan diri untuk tidak teriak-teriak histeris di tengah kantin kantor saat jam makan siang. Saya masih belum siap masuk rumah sakit jiwa hanya karena melihat orang yang bahkan tidak tahu saya ada. ngehekk. Tapi... Sehun, hiks. sangat sekseh dan...., Oh, sial. Dia umurnya berapa sih? Udah legal kan di ajak kawin?

Kalau dalam salah satu post, saya mengaku mencintai Sehun di dunia fanfiction maka sejak hari pertama saya melihat dia di Lotto, saya mengakui dengan sesadar-sadarnya, dia memang warbyazahh!! Semua kesempurnaan yang saya rasakan saat saya membaca ff, terbawa dan terinterpretasi dengan sempurna di Lotto. Terimakasih kemeja garis panjang yang membuatnya makin Gorgeous and Dangerous. Juga untuk Mamahnya yang udah ngelairin anak seganteng itu. Huuu... imajinasi saya lari kemana-mana untuk sepersekian detik solo dancenya. Tobat

ini Lay ya?


Oke, fokus sejenak. Kesempurnaan Sehun tidak boleh membuat kita berpaling dari kenyataan betapa sombongnya Suho. Dia bakar-bakar duit  man. Wew.. duitnya Exo-L, hasil nabung sebulan uang jajan buat beli album, trus endingnya di bakar dengan penuh sukacita oleh Suho?? Kejam kamu mas. T.T

Ketiadaan Kai yang selalu jadi centre dance dimanfaatkan dengan baik oleh duo Sehun(lagi) dan Lay. Part mereka lumayan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa. Selama ini kan Kai nutupin banget ya. Eh, bukan berati saya senang Kai cidera, No! Kai itu (dulu) favorit saya, saya juga maunya dia cepet sembuh. suer.

Pada menit 00:01:50 Ada manusia bertopi masuk mobil, yang ternyata di dalamnya sudah ada Ch atau Suho, entahlah. Mata saya blawur. Lalu ada adegan orang lain melompat ke kap depan mobil, entah siapa dan apa maksudnya, saya juga gak paham. Makin bingung karena di menit ke dua, si super kurus Baekhyun sudah duduk di atas kotak jeruji besi yang semula saya pikir milik D.o. secara itu kan bekas kurungan ayam ya? tapi isinya manusia, jadi sepertinya, profesi mucikari juga sudah beralih tangan. Anehnya, empat detik kemudian, gantian Baekhyun yang dikurung, sambil nyanyi-nyanyi sombong. Chanyeol yang berprofesi sebagai pahlawan juga sempat muncul sekilas.

Kai muncul kembali di menit ke dua lewat empat belas detik. Doi lagi tiduran di sutet. Bangkrut karena bosnya (Suho) ngebakar semua duit hasil menang judi mereka. Disusul kemunculan Chen dengan "No Money"nya yang keren.  Dia terlihat santai dengan wine di tangan meski sepertinya tengah menghadapi penggerebekan. Merasa banget kan bakal di bebasin sama bos Suho, gak tau aja dia kalau Bosnya bangkrut karena salah bakar. Mau bakar duit palsu tapi yang dibakar yang asli. hahaha,

adek juga mau bang dibawa lari :(

Dan part paling dramatispun terjadi, saat dimana Ch menyelamatkan perempuannya dari sarang penyamun. Disertai kejaran dari tim Swat yang (mungkin) mau membubarkan pusat gambling mereka. Tapi si cewek kan gada kaitannya ya? Dari kesemua member cuma Chanyeol yang menganggap dia ada. Sisanya pada sibuk ngurus duit, ayam, sama sutet. Sayangnya diapun harus gagal karena di kepung dari segala arah (lebay). Tapi ada yang aneh sih, cewek yang akhirnya di bawa oleh tim S.W.A.T itu terlihat memberikan sesuatu ke Chanyeol. Jadi mungkin kita bakal dapat sekuel dari Mv ini gaes.. Semoga aja kan atau mungkin si cewek ngasih alamat tempat mereka janjian buat kabur bareng? who knows.

Jadi, jadi kesempulannya apa dong kak?, Gak ada kesimpulan. Yang ada, mereka keren. Titik. udah, gitu aja. beberapa member membuat saya gagal paham. Tolong dibantu klarifikasi gaes.

Udah lihat Live performancenya kemaren, bagus sih. Tapi rada kecewa karena sejak awal saya sudah mempersiapkan mental untuk melihat Solo Sexy dance Sehun. Akhirnya persiapan saya sia-sia. Tapi bingung juga kalau itu ada. mikir-mikir aja, pas Sehun nari trus member lain pada ngapain, ya kan? Masak iya, ngasih semangat dari pinggir panggung. Nonsen banget kan?

jangan pegang-pegang tangan laki gue!!

Secara keseluruhan saya suka konsepnya, meski mungkin agak riskan untuk fans di bawah umur. Perjudian tetap haram nak, bahkan meski itu dilakukan oleh bocah-bocah ganteng generasi kini. Lagipula, tu isi lagunya kan tentang nganggep cewek yang seperti lotre ya, tapi di ending gada satupun yang menang. Semua pada bangkrut. Chanyeol sebagai satu-satunya yang memperjuangkan gadisnya juga gak berhasil.
 Nilainya berapa ya? Umm.. sepertinya 7 dari 10. Peringkat tertinggi mereka masih di tempati Growl dan Baby don't cry yang setia nampang di Handphone saya. Apapun itu mereka sudah mengalami metamorfosis yang menakjubkan. Tapi saya kangen Kris, Huu...


Indi-gen





Minggu, 07 Agustus 2016

Kenapa saya mencintai OH SEHUN ???!!

Apa yang kalian pikirkan saat membaca judul di atas? Uuuu... saya tahu apa yang kalian harapkan. Serius! Ini tidak ada hubungannya dengan klenik ataupun membaca pikiran. Siapapun bahkan bisa menebaknya dengan mudah.
pict. from google
Jujur, tulisan ini bukan saya buat untuk mengungkapkan alasan-alasan kenapa saya bisa menyukai pangeran yehett (meski saya yakin, jika saya membuat listnya akan memaksa kalian sedikit sakit mata karena begitu banyak). Ini hanya tentang keheranan saya pribadi, kenapa dan bagaimana saya bisa jatuh cinta padanya. Jangan sebut karena dia tampan, oh ayolah, saya tahu dia tampan, tapi memangnya tidak ada yang lebih tampan darinya? saya yakin banyak. Jadi jawabannya pasti bukan itu.

Kalau kalian mu tahu, saya bahkan tidak menyadari sejak kapan tepatnya saya mulai mencintainya. dan yang lebih aneh lagi. sebenarnya saya tidak mencintainya meski saya akui saya mencintainya. ugh, memusingkan ya? saya juga berfikir begitu.

Jadi begini, saat saya melihatnya, atau mendengar suaranya  tampil di panggung, saya merasa itu biasa saja. tidak ada getar-getar mantjah di hati saya. saya bahkan tidak merasa terkesan dengan kemampuan menyanyinnya. Jangan tersinggung guys, ini opini pribadi. saya tidak terkesan bukan berarti dia buruk loh ya, saya juga kan tidak punya pengalaman apapun dalam bermusik. Jadi penilaian saya, anggap saja butiran debu yang mengganggu.
Karena saya yakin tidak jatuh cinta melalui suaranya, saya kembali mencari tahu. Darimana rasa cinta itu berasal. Pencarian dari waktu ke waktu tak pernah membuat saya lelah. Saya memfollow beberapa akun penggemar setianya (hanya agar saya terus melihat retweetan mereka terkait Sehun). Saya membaca... ah, saya membaca. itu dia.

Akhirnya, Setelah pencarian yang menyenangkan, saya tahu. Saya jatuh cinta pada OH SEHUN 'hanya' karena Fanfiction. parahnya, saya jatuh cinta saat dia menjadi main cast bersama Luhan. Oh Tuhan, rasanya saya ingin menangis di pojok rumah sakit jiwa. Oh, tapi saya tidak menyesalinya sih. hehehe

kalian penggemar HunHan, pasti pernah membaca Desire kan? itu biang keroknya. saya membaca fanfict itu dengan sepenuh hati. setelah Desire resmi tamat, saya mulai keranjingan mencari fanfict Sehun lainnya. Sehun digambarkan dengan sangat baik dalam setiap fanfict yang saya baca. bukan baik secara personality loh ya, karena Sehun pasti kebagian peran egois menjelang antagonis, tapi baik dalam bentuk pengkarakterisasian (eh? bener gak sih tulisannya?). Sehun yang egosi, keras kepala, dan mau menang sendiri.
oh, kita para gadis memang sepertinya punya obsesi yang aneh dengan laki-laki semacam itu. Yah, asal tidak di dunia nyata sih. Karena itu pasti sangat mengesalkan (tapi menjadi tidak mengesalkan jika itu benar-benar Oh Sehun. :D) Iya kan?
yah, namanya juga cinta. Siapapun punya jalannya masing-masing untuk terkait dengan sesuatu yang ia cintai. seperti saya, mencintai Sehun 'hanya' karena fanfiction. sedikit absurd, tapiii... apa sih yang tida absurd jika sudah berhubungan dengan yang namanya CINTA?? jawabannya, TIDAK ADA!

Sabtu, 06 Agustus 2016

I'm A Man ( Saat Cowok Patah Hati)

Apa yang kamu pikirkan tentang cowok yang baru saja putus cinta? Happy? Santai? Biasa saja?
Well, kebanyakan dari kita memang hanya  tertarik dengan pihak cewek saat drama putus cinta terjadi. kenapa? Karena cewek lebih ekplosif, lebih cetar dan cenderung membesar-besarkan masalah. Belum lagi linangan airmata yang membuat suasana sedih semakin terasa. Orang mana yang tak bersimpati dengan perempuan depresi yang baru saja ditinggal kekasih? iya kan? tapi pernahkah kalian berfikir, bagaimana mereka, para cowok menghadapi kenyataan pahit itu? Let's see it

cr on pict.

1. Cowok Juga Manusia

Seperti kata pepatah, dalam diri manusia ada segumpal daging, daging itulah yang kita sebut sebagai hati (meski tidak merujuk pada bentuk fisiknya) tidak pernah dikatakan hanya cewek yang memilikinya. jadi sebenarnya, apa yang dialami cewek saat patah hati (Depresi, kecewa, marah, sedih, etc) juga dialami cowok. Jangan terlalu kejam pada mereka girls, mereka juga manusia. Hanya saja, status 'cowok' memberi batasan bagaimana mereka harus mengungkapkan perasaan. rasa superior yang ditanamkan sejak kecil juga menjadi faktor penentu. Percayalah, ini nyata.

2. Cowok Juga bisa Menangis

pernah lihat cewek yang menangis tersedu setelah diputuskan? Ah, itu sih biasa. Bagaimana dengan cowok? Apakah mereka juga menangis. Jawabannya,Ya! mereka juga menangis. Hanya saja caranya berbeda.  Mereka cukup diam, termenung, dan airmata  meleleh begitu saja. Beberapa cowok mengalami fase penyesalan setelah drama putus cinta terjadi. Saya mengenal seseorang yang bahkan sampai setahun setelah putus cinta, dia masih memiliki 'malam berdarah' saat mengingat sang mantan. Sedih bukan?

3. Cowok Juga Butuh Teman Curhat.

Tidak percaya? Saya juga awalnya berfikir begitu sampai saya sadar, begitu banyak sahabat cowok yang menjadikan saya 'tong sampah' mereka secara tidak langsung. Mereka biasanya akan membahas sesuatu secara santai dengan beberapa pertanyaan retorik. Itu membuat sesi curhat seperti obrolan biasa. Beberapa nyaman untuk curhat dengan sesama cowok, tapi 4 dari 5 akan memilih sahabat cewek yang dipercayainya. Itu karena kita punya segudang nasehat (yang kadang kita sendiri juga membutuhkannya). Saat cowok tiba-tiba bertanya, "Kenapa harus selalu kalian yang butuh dimengerti?" sebenarnya dia ingin diberi ruang untuk menumpahkan uneg-unegnya. Dengarkan dia, jadilah sahabat yang baik.


4. Cowok Juga Butuh Nasehat

Butuh nasehat bukan berarti mereka senang diceramahi ya. Setelah putus cinta, seperti cewek, para cowok juga ingin mendengar opini orang lain tentang kegagalan cintanya. Nasehat itu tidak begitu penting sebenarnya, yang terpenting, mereka mendengar feedback dari apa yang mereka bicarakan.
Akan ada pertanyaan keluar, "Menurutmu, selama ini memangnya saya overprotektif?" atau "Menurutmu sebaiknya saya harus bagaimana?". Beri dia nasehat secukupnya, jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan hanya akan meninggalkan kesia-siaan.

5. Mereka Hanya bersikap Sok Tegar

Ini mungkin sedikit kontroversial, tapi ini benar. Cowok akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski mereka harus gigit jari saat menoleh kebelakang. Kamu harus memakluminya girls. Itu penting untuk menunjukkan seberapa kuatnya mereka. Cowok lemah tidak laku di dunia ini. Itu tuntutan yang harus mereka jalani.


Bagaimana?? sudahkah kalian bersimpati pada teman cowok kalian. Jangan hanya menyalahkan mereka, cobalah pahami beratnya beban yang mereka pikul demi mempertahankan eksistensi. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan perhatian seperti teman cewek kalian saat mengalami patah hati. Selalau ingat poin pertama. 

Seperti pada kasus-kasus humanis lainnya, apa yang saya tulis diatas bisa saja tidak berlaku pada sebagian orang, terutama yang menganggap hubungan mereka adalah sebuah permainan. Ini hanya akan bisa dipahami oleh mereka yang menggunakan hati dalam membangun sebuah hubungan.

Percayalah, saya sudah mengalami setiap poinnya? Tidak percaya? sayang sekali saya tidak bisa membuktikannya. Silakan lakukan sendiri risetmu untuk membuktikan kebenarannya. Ciayoooo!!

Salam hangat - IndiGen

Minggu, 31 Juli 2016

Yang harus Kamu lakukan saat PATAH HATI

Patah hati. Siapapun orang di dunia ini mustahil tidak mengalaminya. setiap dari kita akan mengalami fase ini dan memiliki cara khusus untuk menanggulanginya.
Meski tidak selalu cocok untuk setiap orang, ada beberapa hal yang bisa kamu coba bila saat ini kamu ada dalam fase menyedihkan ini.
Yess, jangan takut apalagi malu. Patah hati normal kok, asal tidak menggiring kalian menuju tahap depresi akut atau bunuh diri. serem amat ya, hehehe
well, kira-kira, apa yang bisa kalian lakukan saat patah hati? cikedot

http://erinjanus.com/5-ways-to-heal-and-deal-with-a-broken-heart/
1. Beri ruang dirimu untuk Menangis.

    Percayalah, Menangis itu penting guys. Kalau kamu malu, menangis di kamar mandi bisa menjadi alternatif yang menarik. Kenapa? karena kamu bisa menikmati sesi patah hatimu dengan khusyuk. Jangan lupa putar kran dan biarkan suara air mengiringi tangismu. sedikit chessy memang, tapi itu berguna untuk membuat keluargamu tidak berteriak panik karena mengira kamu kesurupan --atau stress? setelah menangis, kamu akan lebih tenang, dan lebih siap menghadapi hari depan. 

2. Menonton drama korea

   siapa di sini yang tidak menyukai drama korea? menonton drama terbukti bisa membuat perasaan kalian menjadi lebih baik. Apalagi jika yang kamu tonton memiliki kisah yang bisa menginspirasi. Pastikan untuk memilih yang bergenre comedy romantis ya, karena melodrama hanya akan membuat kamu semakin sakit kepala. Mau tahu apa lagi keuntungannya? Kamu bisa numpang nangis saat adegan sedih muncul. jadi orang-orang akan memaklumimu saat melihat kamu meneteskan airmata. xd


3. Belilah makanan yang enak

    Enak tidak harus mahal. Jangan sampai karena ingin makan enak, bukan hanya hati yang patah, tapi dompetmu juga. belilah makanan manis untuk menemani hari sendumu. Lupakan diet untuk sementara waktu. yang terpenting buat dirimu bahagia.

4. Menulis

    Tulis semua yang kamu rasakan secara mendetail, dan kenapa kamu harus begitu patah hati. Tulis sebanyak mungkin lalu simpan dalam amplop. jangan lupa tulis tanggal, bulan dan tahun di bagian depan. lalu simpan dalam kotak. Tulislah sebanyak mungkin tentang patah hatimu sampai kamu merasa tidak ada lagi yang perlu diungkapkan. Itu akan membuatmu merasa lebih baik. percayalah. Tulisan itu juga bisa menjadi prasasti yang mengagumkan suatu hari nanti.


5. Hindari curhat dengan Teman, apalagi media sosial

   Bukan berarti kamu tidak mempercayai teman, hanya saja, kamu perlu tahu bahwa temanmu juga memiliki teman. Menceritakan patah hatimu kepada orang lain memang membuatmu lega, tapi kamu berpotensi dipermalukan saat ternyata temanmu menceritakan kepada orang lain. Simpan kepedihanmu sebaik mungkin, jangan biarkan orang lain melihat sisi lemahmu. Ini juga berlaku di media sosial. Jangan biasakan menulis keadaan desperate-mu di sosial media. Tidak hanya memalukan, itu juga mendorong orang yang membuatmu patah hati tertawa bahagia, juga bersyukur karena telah menendang 'sampah' sepertimu.

Bagaimana? Layak di coba kan? hasil pada setiap orang akan berbeda, jadi kamu perlu menyesuaikan dengan keadaanmu. Jangan pernah ragu untuk terus melangkah, dan jangan pernah khawatir, Tuhan menyiapkan yang lebih baik di luar sana. oke? 

Salam sayang - IndiGen

Jumat, 22 Juli 2016

Lamaran

All cast milik Masashi, saya cuma numpang beken.
 Perhatian : ketidakjelasan ada dimana-dimana, silakan klik tombol 'back' jika kurang berkenan.
flame are welcomed. don't worry ^^

Sakura kembali menguap malas, entah sudah keberapa. Tiga buku tebal dan dua jurnal berbahasa asing terbuka di depannya, sementara kertas-kertas lain berserakan tak karuan. Sesekali ia meneguk air mineral yang sengaja disiapkannya dalam teko besar. Ia tak mau mati dehidrasi, tentu saja. Konoha akhir-akhir ini sedikit menggila. Efek global warming, begitu ucap Ino tempo hari saat keduanya nyaris pingsan selepas mengikuti penutupan advance training. Ia sempat bertanya-tanya, darimana sahabat pirangnya itu mendapatkan informasi. Setahunya, selama ini Ino hanya tertarik pada dirinya sendiri. Rasanya nyaris mustahil mendapatinya jadi pecinta lingkungan hidup. Oh ayolah, mereka berteman sejak masih ingusan, dan dia tahu ada yang salah dengan Ino-nya.
Ngomong-ngomong, membahas global warming entah kenapa membuat alisnya berkedut. Huh, tugas pokok mata kuliah saja sudah hampir membuatnya mengibarkan bendera putih. Bagaimana ia bisa peduli pada isu-isu itu? Jangan mengejek, ia tahu banyak orang yang mengaku peduli tapi tetap saja membuang sampah seenaknya, malas mematikan alat elektronik, dan yang lebih parah, tetap senang memakai jeans. Proses pembuatan jeans merusak lingkungan, ia pernah menontonnya secara tak sengaja saat memencet-mencet channel secara acak. Sepertinya ia perlu mengingatkan Ino tentang ini, bocah itu memiliki koleksi jeans nyaris lima lusin. Padahal, siapa yang peduli kau mengganti jeansmu? Tidak akan ada yang memperhatikannya apalagi kalau kau memiliki bokong tepos dan-- ah sudahlah, pembahasan itu membuatnya sakit hati.
Meaow... Meaow...
Ponselnya mencicit lucu, sebelah alisnya terangkat melihat nomor yang berkedip di layarnya.
"Hoi Forehead, kau pasti sedang memikirkanku kan? Iya kan? Hahaha."
Sakura menjauhkan ponsel dari telinganya sambil tersungut kesal. Sial. Belum sempat ia berkata apa-apa, Ino dengan tawa cemprengnya lebih dulu membuat kupingnya berdengung.
"Kau mau membuatku tuli ya? Brengsek."
"Hah? Apa," suara Ino terdengar pura-pura kaget, "Tidak sayang, aku tidak berniat seperti itu. Sakura yang sempurna saja masih jomblo tulen, apalagi kalau sampai tuli. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Kikikan menyebalkan Ino kembali mengisi ruang dengarnya. Membuatnya melotot keki. Yang benar saja, Ino itu sahabatnya bukan sih?
"Sakura, kau masih di sana?"
"Hm...."
"Ayo temani aku, Sakura. Aku mau bertemu seseorang."
"Apa? Ino, kita sudah sepakat tentang…."
"Aku tau darling, tenang saja. Ini orang yang kita kenal kok. Aku juga tidak berani bertemu dengan orang asing."
"Lalu? Kenapa mengajakku?"
"Um..., kurasa agar kami tidak terlalu kaku?" Ino terdengar bingung dengan ucapannya sendiri, "Maksudku…."
"Lupakan," sahut Sakura cepat sambil meneguk air di sebelahnya, "Aku tahu kau tidak membutuhkanku…," --dan aku juga malas keluar rumah di cuaca gila ini. "Lagipula, kau lebih hebat dalam menghidupkan suasan. Iya kan?"
"Oh ayolah Sakura, sekali ini saja."
"Ino, minggu depan kita ujian, kalau kau lupa. Kita--."
"Huh. Kutubuku brengsek!"
Klik. Sambungan terputus. Sial. Ganti Sakura yang mengumpat sambil membanting ponselnya di kasur. Dasar Ino sialan, bukannya berterimakasih sudah diingatkan malah mengatainya. Tunggu, Ino bilang akan bertemu seseorang? Ini aneh. Seingatnya, tidak ada pemuda tinggi-tampan-rupawan di sekitar mereka akhir-akhir ini. Ia tahu Ino memiliki banyak penggemar, tapi dia tidak pernah menganggap mereka lebih dari itu.
Meaow... Meaow...
"Apa lagi? Kalau hanya mau mengomel berhenti menelfonku pig."
"Hn."
"Eh?" Sakura terkesiap, cepat dijauhkannya ponsel dari telinganya. Matanya melebar melihat layar ponsel. Astaga, nomor baru. "Aa..., M-maaf."
"Hn."
"Hn?"
Tunggu, sepertinya dia familiar dengan dua kata itu. Di mana dia pernah mendengarnya?
"Haruno Sakura?"
Suara di seberang kembali terdengar. Berat dan datar, tapi menggoda disaat yang bersamaan.
"Ii-iya?"
"Boleh minta nomor ponsel ayahmu?"
Gubrakk. Sakura nyaris terjengkang saking kagetnya. Yang benar saja, suara berat, datar nan seksi itu tenyata lebih tertarik pada ayahnya daripada dia yang jelas-jelas lebih menggoda.
"Ada urusan apa dengan ayahku, err--."
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Lagi-lagi Sakura nyaris terjengkang. Tidak, kali ini kursi yang di dudukinya yang terjengkang karena dia berdiri dengan tiba-tiba. Untung bunyi gedebum saat kursi mencium lantai tidak terdengar. Terimakasih Ino karena menghadiahinya karpet norak berbulu yang nyaris dilemparnya keluar jendela bulan lalu. Siapa sangka, karpet itu ternyata ada manfaatnya.
"Sakura?"
"I-iya," Sakura berdiri dengan gugup. Ia menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Sedetik kemudian ia merasa konyol, ini kan di kamarnya, kenapa ia harus bertingkah seerti ababil kasmaran?
"A-apa ini Sasuke-senpai? Ketua dewan mahasiswa yang…."
"Hn."
Oh astaga, astaga, astaga. Apa yang harus dilakukannya? Apakah itu benar Sasuke? Jangan-jangan ia sedang dikerjai. Tidak. Suara itu memang milik Sasuke. Sakura tak mungkin salah mengenali.
Sakura jejingkrakan tanpa sadar. Tawa lebar tiga jari menghiasi wajahnya. Ino pasti pingsan kalau tahu siapa yang menelfonnya sekarang. Yah, diam-diam mereka memang penggemar Sasuke. Si muka tembok yang meski jutek minta ampun tapi kecenya selangit. Sebenarnya bukan hanya mereka sih, mungkin semua perempuan di kampus mereka menyukainya.
"Jadi Sakura," Suara datar Sasuke menariknya kembali ke dunia nyata. Ia berhenti melompat tak jelas dan memilih memegang dadanya yang bergemuruh tak karuan, "Bisakah kau mengirimkan nomor ayahmu?"
Sakura tersenyum lebar, rona merah tercetak jelas di kedua pipinya. Ia pernah mendengar, kalau seorang pria meminta nomor ayahmu berarti dia menawarkan hubungan yang serius. Apa Sasuke-senpai benar-benar menyukainya? tapi sejak kapan? Selama ini interaksi mereka hanya sebatas senior-junior selama masa penerimaan mahasiswa baru. Itupun sudah berlalu hampir setahun lalu. Sasuke terkenal jutek dan bengis terhadap junior, jadi tak banyak yang berani mendekatinya.
"Sakura."
Suara bariton Sasuke kembali terdengar. Menyadarkan Sakura dari imajinasi liarnya tentang si pangeran kampus.
"Ano, Senpai, kalau boleh tahu, kenapa kau meminta nomor ayahku ya?"
Sakura mengigit bibir dalamnya menahan senyum. Ia sudah bisa menyimpulkan Sasuke naksir padanya, tapi dia butuh pernyataan langsung. Ia memejamkan mata demi menajamkan pendengaran. Ini peristiwa langka abad ini, ia tak boleh melewatkannya barang sedetikpun.
"Hn. Kudengar ayahmu seorang wedding planner, aku ingin menyewa jasanya."
"Aa-apa?" Sakura tertegun, imajinasi yang masih berterbangan retak seketika. Tubuhnya terduduk lesu di tepi ranjang, "Ma-maksud Senpai?"
"Bukankah ayahmu seorang wedding planner?"
Kali ini suara Sasuke yang terdengar bingung.
"Be-benar," gumaman Sakura membuat Sasuke yang semula menahan nafas menghembuskannya perlahan. "Tapi, untuk apa senpai menanyakannya?"
"Membicarakan rencana pernikahan, tentu saja."
Sakura melorot dengan tidak elitnya ke lantai. Kakinya sempat terantuk kursi yang tadi terjengkang karena ulahnya. Ia ingin mengumpat, tapi Sasuke masih ada di seberang sana. Ia tidak boleh terlihat barbar di depan orang yang disukainya.
"Um... baik Senpai, nanti ku kirimkan."
Akhirnya kalimat itu bisa ia ucapkan. Bersamaan dengan bunyi klik tanda terputusnya telfon. Ia memutus telfon dari seorang Uchiha Sasuke. Huh, dia pasti sudah gila. Kelebatan kenangan terputar di kepalanya. Ia ingat, Sasuke pernah menolongnya membawa setumpuk diktat ke ruang Tsunade sama. Sasuke juga pernah memberinya tumpangan saat ia terlambat mengikuti orientasi. Bahkan karena Sasuke, ia lolos dari hukuman Karin-senpai yang bengis. Ah, Karin, apa Sasuke menikah dengannya ya? selama ini satu-satunya perempuan yang bisa berdiri di samping Sasuke hanya Karin. Dengar-dengar mereka dekat karena keluarga mereka bersahabat. Jadi wajar kalau akhirnya mereka menikah.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, ia bahkan memukulnya karena merasa tolol.
"Apa sih yang kupikirkan." gumamnya prihatin, "Dia yang menikah kenapa aku yang pusing?"
Dia mengangguk, meyakinkan diri sendiri. Tapi saat dia akan bangkit dari duduknya, sebulir airmata lolos dari pertahanannya. Ia kembali bersimpuh, kali ini sambil tersedu kecil. Separuh untuk hatinya yang patah, separuhnya lagi untuk ketololannya menangisi sesuatmu yang bahkan tak pernah ia miliki.
***
"Errr... Sakura, kau yakin tidak papa?" suara Ino kembali menyapa ruang dengarnya. Ia mendongak sesaat untuk melihat Ino yang tengah menatapnya cemas. Membuatnya sedikit merasa bersalah. Ini pasti gara-gara kantung mata sialan yang tak mau minggat meski telah dikompresnya selama hampir dua jam.
"Aku baik, Ino," ucapnya sambil mencoba tersenyum --meski berakhir aneh, "Jangan khawatir."
"Huh. Harusnya kau melihat wajahmu saat mengatakan kalimat itu." gerutunya sambil kembali membenahi poni sampingnya. Sakura hanya tertawa masam. Ia patah hati. konyolnya, untuk sesuatu yang bahkan mungkin tidak tahu ia ada. Menyedihkan sekali. dan ini sudah terjadi dua hari sejak Sasuke menelfonnya. Sial.
"Kau harus menceritakannya kalau sudah siap, nee." suara Ino kembali terdengar. Memaksanya tersenyum hanya untuk membuat sahabatnya itu berhenti khawatir. Gadis merah muda itu hanya mengangguk kecil sambil kembali menekuni novel spionase favoritnya.
Sakura baru akan beranjak dari duduknya saat di ujung sana bayangan Sasuke menguncinya. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang mengapit lengannya sambil mengatakan sesuatu pada Sasuke. Sasuke terlihat mengangguk kecil lalu tersenyum sambil mengangkat sebelah jempolnya. Pemandangan langka yang menyakitkan. Itu adalah perempuan kedua setelah Karin yang bisa menempel pada Sasuke.
"Sakura, ada apa?" suara cemas Ino membuatnya kembali terjaga. Lupakan Sasuke, dia bukan siapa-siapa. Lupakan Sasuke dia bukan siapa-siapa. Mantra itu terus diputarnya. Ia tak boleh kalah oleh romantisme menyedihkan seperti ini. Ini samasekali bukan dirinya.
"Sakura," Panggil Ino disertai guncangan lembut dibahunya. "Kau kenapa?"
Ino sangat mencemaskannya. Ia bisa merasakan itu.
"Aku pulang dulu ya, Ino," ucapnya sambil beranjak dari duduk, "Kurasa aku perlu sedikit istirahat."
***
Sakura masih asik dengan ipodnya. Udara luar yang masih menggila membuatnya betah berlama-lama di kamar. Terimakasih pada Sasori-nii yang telah menghadiahinya pendingin ruangan canggih saat ulang tahunnya bulan lalu. Ah, Sasori-nii, sedang apa ya dia sekarang? Kalau di Konoha saja sepanas ini, bagaimana dengan di Suna? Nii-sannya bilang, Suna adalah daerah padang pasir, bisa dibayangkan bagaimana panasnya. Ia hanya berharap semoga Nii-san yang bekerja sebagai kepala mekanik industri penerbangan Suna itu tetap baik-baik saja.
"Sakura,"
panggilan sang ibu menginterupsi lamunannya tentang sang kakak. Sakura segera menurunkan kakinya yang tadi terulur ke dinding. Beruntung ia hanya mendengar lagu-lagu ballad, jadi pendengarannya tidak sepenuhnya terblokir dari dunia luar.
"Sa-ku-ra."
"Ibu," Sakura tersungut saat mendekati ibunya di dapur. "Tidak teriak-teriak bisa kan? aku belum tuli tau."
"Maaf sayang," ucap Mebuki sambil tersenyum, "Ini, tolong bawa ke depan ya. Ayahmu ada tamu. Ibu mau ke toilet, kebelat."
Sakura mendelik melihat ekspresi ibunya, yang benar saja, memangnya kalau kebelet harus secentil itu? Huh, sakura tahu ibunya terkena syndrom pinokio, tapi wajah itu-- err, Sakura bergidik membayangkannya.
"Akhir-akhir ini memang banyak pasangan yang memilih menikah muda."
Suara khas ayahnya terdengar saat Sakura memasuki ruang tengah. Di tangannya setoples Nastar buatan sendiri dan dua cangkir ocha mengepul hangat. Ia tidak tahu siapa tamu sang ayah, tapi ia sedikit heran. Tidak biasanya sang ayah menerima klien di rumah.
"Kurasa itu benar,"
Sakura terhenti sejenak, suara itu? sepertinya ia tidak asing dengan tone dan keseksiannya.
"Menikah muda, bukankah itu terdengar menyenangkan, paman?"
Sakura kembali membeku, dia tidak mungkin salah mengenali. Suara itu--
"Itu benar, Sasuke," suara kekehan ayahnya terdengar antusias, "Aku juga dulu menikah muda, tak heran meski anak pertamaku sudah cukup dewasa aku tetap terlihat masih muda."
Ayahnya kembali tertawa, kali ini bahkan beberapa kali terbatuk. Sedangkan suara Sasuke tidak terdengar di telinganya. Ia menarik nafas panjang sebelum kembali meneruskan langkah. Jadi Sasuke benar-benar akan menyewa wedding organizer ayahnya? Menyedihkan sekali nasibmu Sakura, rutuknya dalam hati.
"Jadi, kau ingin konsep pernikahan seperti apa?"
Deg. Jantung Sakura rasanya seperti dihantam palu. Nyeri dan nyinyir mengalir bersamaan. Tiba-tiba saja ia merasa buruk. Kalau bisa, ia ingin berlari masuk dan mengurung diri di kamar daripada mendengar Sasuke menjelaskan detail pernikahannya. Tapi ia tidak bisa, karena--
"Oh, Sakura-chan, kau ada di sini,"
Ayahnya lebih dulu memergokinya tengah terpaku di dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga kediaman mereka, "Kemarilah. Kurasa Sasuke juga sudah haus."
Sakura melangkah kikkuk mendekati mereka. Ia bisa merasakan tatapan tajam Sasuke dari sudut matanya.
"Sebenarnya akan lebih baik kalau kalian datang berdua. Selera kalian bisa saja berbeda."
Dada Sakura kembali nyeri mendengar ucapan ayahnya.
"Hn, kami sudah pasti satu suara paman, jangan khawatir. Jadi, berapa biaya untuk satu paketnya?"
"Umm... itu tergantung, Sasuke," gumam Kizashi, "Oh, terimakasih sayang." ucapnya saat Sakura menaruh Ocha di hadapannya. "Antara lima ratus ribu hingga sepuluh juta yen. Kami professional, wajar kalau sedikit mahal."
"Hn. Tidak masalah."
Sakura sudah selesai menaruh toples nastarnya. Ia ingin segera menghilang dari hadapan Sasuke. Ia yakin sekali, sejak tadi, tanpa sungkan Sasuke terus memelototinya di balik wajah tembok itu.
"Sakura-chan mau kemana?" suara sang ayah terdengar saat ia akan berbalik. Ia menatap sang ayah tak mengerti. Bukankah tidak sopan jika ia ikut nimbrung bersama tamu ayahnya? "Ayah dengar kalian satu kampus, mungkin kau bisa membantu. Ayah ingin tahu selera gadis muda. Tidak apa kan, Sasuke."
Sakura mendelik mendengar perkataan Ayahnya. Apa-apaan ini? Mendengar Sasuke akan menikah saja sudah membuatnya sesak nafas, bagaimana mungkin dia dilibatkan di dalamnya? Ini konyol.
"Hn. Tidak masalah, paman."
Leher Sakura berputar refleks ke arah Sasuke. Sial, kenapa pula senior juteknya itu harus mengiyakan.
"Umm.. Ano, ayah, kurasa aku--"
"Ngomong-ngomong, paman," Sasuke memotong kalimat Sakura cepat. Memaksa gadis merah muda itu memicing tak suka. Keluarganya sangat menjunjung tinggi adat kesopanan, dan memotong pembicaraan orang lain sama sekali tidak masuk dalam hitungan.
"Kalau aku menikahi Sakura, apa kau akan mengratiskan biaya WOnya?"
Sakura shock, nampan yang dipegangnya bahkan nyaris jatuh mencium lantai. Astaga! Demi wajah tampan Son Dongwoon yang tergantung di dinding kamarnya, apa dia tadi mendengar tentang pernikahan? Pernikahannya??
Kizashi tampak sama terkejutnya dengan sang puteri. Tapi dia lebih cepat menguasai diri. Ia berdehem sekali lalu menganggukan kepalanya pelan.
"Akan kupikirkan," ucap Kizashi santai, "Kurasa kau hanya perlu membayar setangahnya, bagaimana?"
Meski ada nada bercanda di kalimat sang ayah, Sakura tetap melotot mendengarnya. Apa ayahnya sudah gila? Atau dia yang gila karena mungkin kini tengah berhalusinasi.
"Hn. Berapapun tidak masalah sebenarnya," Sasuke melirik Sakura sekilas. Juniornya itu masih tampak lucu dengan raut campur aduk antara bingung, kesal, marah dan merasa bodoh.
"Kedengarannya bagus," suara Kizashi kembali terdengar disela kekehan jahil, "Tapi sebaiknya kita selesaikan dulu ma--."
"Tunggu dulu ayah," potong Sakura cepat, persetan dengan kesopanan. Ia sudah tidak peduli. "Apa yang kalian bicarakan barusan?"
Sakura duduk di kursi lain masih dengan tatapan menuntut.
"Yang mana Sakura-chan?"
Sakura nyaris mendecih kalau tak ingat nasehat ibunya. Astaga, rasanya ia sudah hampir meledak.
"Ayah, aku tidak mau menikah dengan orang yang bahkan sudah merencanakan pernikahannya dengan orang lain. Aku tidak mau jadi yang kedua dan yang lebih penting aku tidak ingin menyakiti calon istri Sasuke-senpai, siapapun dia,"
Sedetik. Dua detik. Ruang tiba-tiba lengang. Kizashi tampak melongo sempurna dengan cangkir menggantung di udara, sedangkan Sasuke tampak mengerutkan alis tak mengerti.
"Kenapa? Kenapa kalian diam?"
Dua orang di depannya masih pada posisi yang sama. Deheman sang ayah menjadi pembuka keheningan mereka. Sasuke tampak mengulum senyum geli di balik wajah stoicnya. Sakura mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan apa yang terjadi.
"Ada apa?" tanya Sakura curiga, "Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Err... Sayang, kau tidak berpikir kalau Sasuke yang akan menikah kan?" ucap Kizashi sambil menahan tawa. Bahunya bahkan bergerak naik turun, membuat Sakura semakin bingung. "Ini untuk Itachi, bukan Sasuke."
"I-itachi?" Sakura melongo, siapa pula itu. Apa itu nama calon Sasuke? tidak, tidak. Itu terdengar seperti nama laki-laki.
"Dia kakakku, Sakura." dengus Sasuke gemas, "Sepertinya kau terlalu banyak berimajinasi."
Aa-apa? kakak? Dia tidak pernah tahu Sasuke punya kakak. Jadi Sasuke mencarikan Wedding organizer untuk pernikahan kakaknya? Itu berarti Sasuke masih bebas? Bebas dimiliki oleh siapapun termasuk dirinya. Tunggu dulu, lalu perempuan yang mengapitnya kemarin, siapa?
"Sakura,"
Jelas-jelas mereka terlihat akrab dan mesra.
"Sakura-chan, hoi, kau baik-baik saja?"
Suara sang ayah membuyarkan deretan pertanyaan dikepalanya.
"Sakura."
Sakura bangkit dari duduk, bingung dengan gesturenya sendiri.
 "Ku-kurasa, aku harus pergi." ucapnya gugup. Astaga, memalukan sekali. Ia benar-benar menyesal sudah bersedia menyuguhkan Ocha untuk tamu sang ayah yang ternyata senior tampan pujaannya. Ia berjalan tergesa menuju ruang tengah. Berharap kejadian berusan tak pernah ada.
"Dia masih aneh seperti dulu."
"Itu karena kau datang tiba-tiba, Sasuke," suara percakapan keduanya masih ia dengar dari balik dinding. "Kukira kalian sudah akrab di kampus. Dia banyak membahasmu saat baru masuk."
Sasuke mendengus. "Dia bahkan lupa padaku."
Kizashi kembali terkekeh, perlahan diseruputnya ocha hangat di tangannya. "Sepertinya kita perlu mengadakan pertemuan keluarga. Lagipula sudah lama aku tidak bertemu Fugaku. Sudah setua apa ya dia sekarang?"
Sakura semakin tak mengerti. Kalimat terakhir pembicaraan mereka yang berhasil di dengarnya membuat seolah keluarganya dengan keluarga Sasuke sudah saling mengenal. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Hallo sayang," suara ibunya centil menyapa pendengaran, "Bagaimana tamu ayahmu, tampan kan?"
Sakura mendelik demi melihat senyum ibunya. Ia cepat-cepat menaruh nampan di meja makan lalu berlari menuju tangga.
"Jangan lupa bercermin sayang, kau harus lihat wajahmu sekarang." kikikan ibunya masih terdengar bahkan meski ia sudah menutup pintu kamarnya.
Arrrgghhh. Siall!!
"Pig, ayo kita bertemu. Aku harus--"
"Aku tau Sakura. Sasuke-senpai melamarmu kan? Hahaha."
Sakura memicing tak suka, "Darimana kau tahu?"
"Aku punya informan Darling."
"Ino." Desisnya jengkel. Ia benar-benar tak mengerti, kenapa ia menjadi satu-satunya orang yang tak tahu tentang ini.
"Sai-kun memberitahuku," Ucap Ino santai, terdengar bocah pirang itu bersiul pelan. Sai adalah sahabat Sasuke, mereka cukup sering terlihat bersama. "Aku baru tahu kau dan Sasuke-senpai dulu berteman. Kau tidak pernah bilang sih. Coba aku tahu, kita tak perlu mengendap-endap hanya untuk membuntutinya kan. Huu...."
"Aku tidak pernah--, tunggu kau bilang apa tadi? Sai-kun? Sai yang itu? Si seniman ramah lingkungan? Kenapa aku tidak tahu kau dekat dengannya?"
Terdengar Ino mendecih pelan, "Kau saja yang terlalu larut dalam duniamu Forehead. Aku sudah pernah berniat mengenalkannya padamu. Tapi kau menolak, ingat kan?"
Astaga. Sakura memukul jidat lebarnya pelan. Ia jadi merasa bersalah, akhir-akhir ini ia memang lebih senang mengurung diri. Dan... ya, tiba-tiba saja kepedulian Ino pada lingkungan jadi beralasan. Senior murah senyum itu sudah menularinya.
"Sakura? Kau baik-baik saja?"
terdengar suara Ino dari seberang. Ia jadi merasa dejavu mendengar Ino menanyakan keadaanya.
"Umm.... yeah, kurasa. Mungkin, aku hanya butuh sedikit istirahat." gumamnya lalu memutus telfon. Ia berbaring telentang di kasur empuk kesayangannya. Matanya terpejam, mencari benang merah dari apa yang dialaminya hari ini.
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, cepat ia bangkit dari tidur lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Sebuah kotak besar dikeluarkannya dengan susah payah. Ia membongkar semua isinya. Itu adalah kotak tempat ia menyimpan barang-barang kenangannya sewaktu kecil. Sebenarnya, ibunya yang melakukan untuknya. Sakura tak begitu peduli dengan benda-benda usang yang ia bahkan tak ingat pernah memilikinya.
Sebuah lipatan kertas terjatuh saat ia mengangkat replika jeep bermotif loreng. Ia segera mengambilnya. Ia membukanya dengan tak sabar, dan di sanalah matanya terpaku. Pada tulisan tangan yang ia yakini adalah miliknya.
'Sakura & Sasuke-kun'
Tulisan itu tercetak jelas dengan spidol warna merah. Sebuah gambar aneh berbentuk dua orang saling berpegangan menghiasi sebagian besar kertasnya. Dada Sakura bergetar melihat itu. Tiba-tiba saja kenangan-kenangan asing menyeruak dalam ingatannya. Seorang gadis kecil dengan jidat lebar, anak laki-laki dengan senyum tampannya, mainan yang berserakan, mobil pengangkut barang, boneka Bear yang terlepas lengannya, airmata, hujan. Ah, ia ingat, hari itu hujan saat tetangga baiknya pindah entah kemana. Sakura masih terlalu kecil untuk bertanya atau memahaminya. Ia hanya menangis karena tidak ada lagi orang yang akan menemaninya bermain.
Sakura memukul kepalanya pelan, merasa konyol dengan dirinya sendiri. Jadi dia sudah mengejar-ngejar Sasuke sejak tiga belas tahun lalu? sungguh memalukan.
"Bodoh, bodoh, bodoh." umpatnya kesal, pantas saja Sasuke selalu menatapnya horror. Ia pikir itu hanya cara Sasuke menakutinya sebagai junior. ternyata pria itu punya maksud lain.
"Harusnya kau sadar sejak aku meminta nomor ponsel ayahmu. Dasar pinky lemot."
"Eh?"
***
FIN